jurnalistik.co.id – Ada momen kecil yang kerap luput dari sorotan kamera dalam aksi BEM UI pada Jumat, 22 Juni 2026. Keberhasilan panitia menggagalkan infiltrasi kelompok provokator terjadi tanpa riuh yang biasanya menyertai insiden.
Bagi sebagian orang, peristiwa semacam itu tampak seperti urusan teknis di lapangan. Namun, bagi mereka yang memahami anatomi gerakan massa, momen tersebut menyimpan pelajaran yang lebih mendasar daripada sekadar logistik.
Peristiwa ini bisa dibaca sebagai alarm tentang betapa pentingnya deteksi dini agar aksi mahasiswa tidak mudah disusupi kelompok pengacau dan penumpang gelap. Salah satunya adalah dengan menghadirkan kembali kebaradaan “pita antipenyusup” dalam desain aksi mahasiswa.
Pita Lebih Dari Sekadar Kain Tanda Pengenal
Dalam tradisi aksi massa yang terorganisasi, pita di lengan bukan sekadar aksesori. Ia berfungsi sebagai simbol tata kelola gerakan, yang membuat struktur aksi dapat dikenali secara cepat di tengah kerumunan.
Praktik penggunaan pita lengan (armband) dalam gerakan mahasiswa Indonesia tidak lahir dari ruang hampa. Sejarahnya bisa dilacak setidaknya sejak era pergerakan nasional, ketika kelompok pemuda dan mahasiswa menggunakan penanda visual untuk membedakan anggota resmi dari simpatisan lepas.
Pada aksi-aksi besar pasca-kemerdekaan, pita lengan berperan sebagai mekanisme identifikasi komando lapangan. Di momen seperti itu, pita menegaskan siapa yang boleh berbicara kepada aparat, siapa koordinator sektor, siapa tim kesehatan, serta siapa yang berwenang memutuskan mundur atau bertahan.
Fungsi dasar pita, setidaknya ada empat. Pertama, identifikasi keanggotaan: memisahkan peserta resmi dari kerumunan umum yang rentan disusupi kepentingan asing.
Kedua, rantai komando: warna atau motif pita yang berbeda menandai hierarki. Koordum, Koorlap, tim medis, tim negosiasi, dan penjaga barisan—semuanya dapat dikenali lewat penanda yang sama.
Ketiga, manajemen krisis: saat situasi menjadi ricuh, pita membantu sesama peserta mengenali siapa yang dipercaya memimpin penarikan massa. Dengan begitu, respons tidak mengalir secara acak dan keputusan tetap berada dalam kendali yang jelas.
Keempat, legitimasi moral: pita lengan bersama almamater kampus menyatakan secara visual bahwa yang hadir adalah gerakan terorganisasi, bukan massa liar. Secara praktis, pita menjalankan fungsi ganda, ke dalam maupun ke luar.
Ke dalam, penanda tersebut menegaskan siapa yang berhak berbicara atas nama aksi. Ke luar, pita membedakan gerakan mahasiswa dari kerumunan jalanan yang mudah dibajak kepentingan pengrusuh.
Relevansi Koordum dan Koorlap
Di titik inilah relevansi Koordinator Umum (Koordum) dan Koordinator Lapangan (Koorlap) sering dipandang sebelah mata. Dalam aksi massa yang sehat, keduanya bukan sekadar jabatan struktural yang disebut formalitas.
Dengan tata kelola yang jelas, keberadaan Koordum dan Koorlap menjadi rujukan saat proses bergerak cepat, ketika diskusi berubah menjadi tekanan, atau ketika massa perlu ditata agar tidak melebar tanpa arah. Penanda berupa pita membantu memastikan koordinasi tidak berhenti di simbol, melainkan hadir sebagai prosedur yang dapat dipatuhi bersama.
Jika deteksi dini ingin bekerja, elemen seperti “pita antipenyusup” perlu kembali dipahami sebagai bagian dari desain aksi. Ia bukan jaminan yang berdiri sendiri, melainkan cara agar upaya infiltrasi tidak mendapat celah untuk berjalan mulus di tengah kerumunan.
Abdul Khalid adalah Pegiat Politik, Tenaga Ahli DPR RI, Peneliti LP2M Universitas Sunan Gresik. Ia juga Pendiri Armala Mandiri Indonesia (AMI) dan Inisiator Forum BEM DIY (FBD).
Agar “pita antipenyusup” benar-benar berfungsi, desainnya perlu disepakati sejak awal: cara mengenakan, posisi pemasangan, hingga prosedur saat ada pemeriksaan internal. Sosialisasi yang seragam membuat setiap peserta paham harus merujuk siapa, kapan, dan dengan tanda apa.
Ketika struktur bergerak cepat, detail visual yang konsisten membantu meredam kepanikan dan mempercepat pengambilan keputusan secara bersama, terutama pada fase ketika massa mulai melebar dan respons harus tetap berada dalam kendali.












