jurnalistik.co.id – Dua pekan setelah harga Pertamax naik menjadi Rp 16.250 per liter, sejumlah warga Tangerang Selatan mulai menyesuaikan pola belanja untuk menekan pengeluaran. Mereka mengaku melakukan penghematan bertahap, termasuk mengurangi jajan anak dan mengatur kebutuhan makan dari rumah.
Salah satunya adalah Muhammad Dika (30), pemusik keliling asal Rempoa, Tangsel. Dika mengatakan ia memotong jatah jajan untuk anaknya sebagai bagian dari upaya menyiasati kenaikan harga bensin yang mulai merembet ke kebutuhan lain.
“Jajan anak agak berkurang karena saya belajar dari pengalaman, ngerinya ada kenaikan lain yang merembet dari BBM, seperti harga makanan,” kata Dika saat ditemui di SPBU 34.15420, Jalan Benda Raya, Pamulang, Kamis (25/6/2026).
Selain memangkas jajan anak, ia juga memilih beralih menggunakan Pertalite ketimbang Pertamax untuk motornya. Menurut Dika, kendala di performa mesin motor tua menjadi pertimbangan, namun harga Pertamax dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan kemampuan belanja.
“Sebenarnya pakai Pertalite mesin motor tua saya jadi berat tarikannya, tapi harganya (Pertamax) sudah tidak tahan,” ujar Dika.
Langkah penghematan serupa juga dirasakan Rudi (36), seorang guru sekolah dasar di Kabupaten Tangerang. Ia menyebut tetap menggunakan Pertalite, tetapi dampaknya ia rasakan secara tidak langsung melalui kenaikan harga sejumlah bahan pokok.
Rudi mengatakan harga kebutuhan harian seperti beras dan sayuran berubah, sehingga ia perlu memperketat pengeluaran keluarga. Ia mencontohkan selisih harga beras yang terlihat jelas dalam kebutuhan sehari-hari.
“Harga beras yang dulu Rp 74.500 itu ada di mana-mana, sekarang sudah susah, adanya yang Rp 94.000,” ujar Rudi ditemui terpisah.
Untuk menahan biaya, Rudi bersama istrinya kini tidak lagi membeli makan di luar rumah. Mereka memilih lebih fokus pada masak sendiri serta menyusun meal plan agar rencana belanja tetap mengikuti batas anggaran.
“Siasat kami sekarang adalah memperketat anggaran dengan masak di rumah dan membuat meal plan. Kami atur setiap hari masak apa agar belanja tetap sesuai budget,” tutur Rudi bersama istrinya, Lili.
Di sisi lain, warga Depok bernama Zidni (23) mengaku tetap perlu merogoh kocek lebih dalam demi bisa membeli Pertamax. Ia menyebut biaya pengisian untuk motornya kini mencapai Rp 80.000, sebelumnya Rp 60.000.
“Berasa juga di dompet kalau lagi jalan jauh. Makanya sekarang saya lebih perhitungan. Kalau mau pergi jauh, saya pilih pakai motor matic yang lebih irit saja. Motor yang ini (motor hobi) tidak dipakai terus-terusan lagi,” ujar Zidni.
Dari sejumlah pernyataan warga tersebut, terlihat bahwa kenaikan harga Pertamax mendorong perubahan kebiasaan yang lebih praktis. Mereka menyesuaikan pilihan bahan bakar, mengubah cara mengatur konsumsi harian, hingga membatasi penggunaan kendaraan tertentu ketika perjalanan tidak mendesak.
Penghematan yang dilakukan juga cenderung menyasar pos pengeluaran yang dianggap paling terasa dalam keseharian, terutama kebutuhan makan dan biaya perjalanan. Bagi sebagian warga, strategi itu membantu menjaga ritme pengeluaran tetap terkendali, meski menghadapi perubahan harga yang mulai terasa sejak awal kenaikan.
Dengan kondisi tersebut, dua pekan setelah harga Pertamax naik, Tangsel dan sekitarnya menunjukkan respons yang beragam namun mengarah pada satu tujuan yang sama: menahan laju biaya agar tetap sesuai kemampuan belanja. Baik melalui pengurangan jajan anak, pembiasaan memasak di rumah, maupun pengaturan cara berkendara, warga berupaya menjaga kebutuhan tetap terpenuhi tanpa melebar pada pengeluaran yang tidak terencana.












