jurnalistik.co.id – Harga Ethereum menguat tajam pada Selasa, 16 Juni 2026, setelah tekanan inflasi di Amerika Serikat mereda. Pergerakan ini terlihat dari lonjakan harga ETH dalam beberapa periode perdagangan terakhir.
Pada pukul 08.31 WIB, Harga Ethereum hari ini tercatat meroket 4,93 persen dalam 24 jam terakhir. Kenaikan tersebut juga diikuti oleh pergerakan yang lebih pendek: dalam 1 jam terakhir, ETH naik 0,15 persen.
Jika melihat rentang yang lebih panjang, Ethereum juga menunjukkan tren positif. Dalam sepekan terakhir, ETH melonjak 7,48 persen hingga menyentuh 1.795,05 dollar AS atau setara dengan sekitar Rp 31,7 juta dengan kurs Rp 17.709.
Dari sisi nilai, kapitalisasi Ethereum pada hari yang sama mencapai 216,6 miliar dollar AS atau setara Rp 3.833 triliun. Secara rerata per 24 jam, ETH mengalami kenaikan 4,85 persen.
Perubahan harga dalam 24 jam terakhir
Pergerakan ETH sempat menunjukkan volatilitas di sesi sebelumnya. Pada 15 Juni 2026 pukul 16.45 WIB, ETH sempat turun hingga 1.714,54 dollar AS atau sekitar Rp 30,33 juta.
Namun, hanya berselang sekitar 6 jam, harga kembali bergerak menguat dan melonjak ke 1.845,24 dollar AS atau sekitar Rp 32,6 juta. Setelah rebound tersebut, ETH bertahan di jalur kenaikan hingga pagi ini.
Hingga pukul pagi hari, ETH terus berada di atas 1.750,00 dollar AS. Kondisi ini menggambarkan bahwa penguatan tidak hanya terjadi sesaat, tetapi berlanjut pada rentang waktu berikutnya.
Meredanya inflasi dan dampaknya ke pasar kripto
Penguatan Ethereum dikaitkan dengan meredanya tekanan inflasi di dalam negeri Amerika Serikat. Dalam pemberitaan ini, grafik positif ETH mulai terlihat setelah ekspektasi mengenai kondisi inflasi membaik.
Seiring itu, pasar kripto secara luas juga disebut bergerak setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kerangka kerja kesepakatan damai yang telah selesai dengan Iran. Kerangka kerja tersebut mencakup pembukaan kembali jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz.
Melalui mekanisme yang disebut dalam teks sumber, pembukaan kembali jalur tersebut menyebabkan harga minyak turun tajam. Penurunan harga minyak ini lantas berdampak pada kekhawatiran inflasi jangka pendek, sehingga tekanan terhadap ekspektasi inflasi menjadi lebih ringan.
Ketika kekhawatiran inflasi jangka pendek mereda, sentimen pasar disebut meningkat terhadap aset-aset spekulatif, termasuk kripto. Dalam konteks tersebut, ETH memperoleh dukungan dari kondisi sentimen yang membaik setelah faktor inflasi dan harga minyak bergeser.
Dengan rangkaian data yang sama, penguatan ETH pada hari ini dapat dilihat dari kombinasi tren intraday dan perubahan dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan 4,93 persen (dalam 24 jam), tambahan 0,15 persen (dalam 1 jam), serta lonjakan 7,48 persen (dalam sepekan) semuanya memperlihatkan momentum yang konsisten.
Pada akhirnya, pergerakan Ethereum hari ini menggambarkan respons pasar terhadap perubahan ekspektasi inflasi yang dipengaruhi jalur pengiriman minyak Selat Hormuz. Di saat pasar menunjukkan minat yang lebih tinggi pada aset spekulatif, ETH ikut mencatat kenaikan hingga bertahan di atas 1.750,00 dollar AS.
Setelah kenaikan kembali terjadi pada 15 Juni sore, pergerakan ETH kemudian menunjukkan kelanjutan minat beli hingga awal sesi berikutnya. Ini terlihat dari posisi harga yang tetap bertahan di zona atas 1.750,00 dollar AS.
Lonjakan yang terpantau pada ukuran waktu berbeda juga memperkuat gambaran adanya dorongan beruntun. Kenaikan harian 4,93 persen tetap sejalan dengan tambahan pergerakan dalam 1 jam terakhir, sehingga reli tidak berhenti pada satu momen.
Di balik dinamika tersebut, arah sentimen pasar disebut menguat seiring meredanya kekhawatiran inflasi yang sebelumnya dipengaruhi jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz. Ketika ketidakpastian jangka pendek mereda, pasar cenderung lebih responsif terhadap aset berisiko tinggi seperti kripto, termasuk Ethereum.












