Bisnis & Ekonomi

Harga Minyak Melonjak ke US$96 usai AS Gempur Iran

0
×

Harga Minyak Melonjak ke US$96 usai AS Gempur Iran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: AS Gempur Iran, Harga Minyak Meroket ke US$96

jurnalistik.co.id – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (28/5/2026) setelah serangan terbaru Amerika Serikat di Iran memicu kekhawatiran baru atas kelancaran pengiriman komersial melalui Selat Hormuz. Kekhawatiran pasar langsung tercermin pada pergerakan harga, dengan Brent dan West Texas Intermediate sama-sama mencatat kenaikan sekitar 2%.

Mengutip data perdagangan dari laporan CNBC, harga minyak Brent naik sekitar 2% menjadi US$96,28 per barel pada pukul 08.42 waktu AS. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat sekitar 2% ke level US$90,75 per barel. Kenaikan ini menegaskan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap setiap perkembangan yang berkaitan dengan Iran dan jalur pelayaran strategis di kawasan tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan telah menargetkan pangkalan udara AS sekitar pukul 04.50 waktu setempat. Namun, IRGC tidak merinci lokasi pangkalan udara yang menjadi sasaran serangan tersebut. Pernyataan itu menambah ketegangan yang sudah meningkat lebih dulu setelah militer AS melancarkan serangan baru terhadap fasilitas militer Iran yang diyakini mengancam pasukan AS dan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Di sisi lain, pejabat AS menyebut pihaknya berhasil mencegat dan menembak jatuh beberapa drone Iran. Informasi ini memperkuat gambaran bahwa ketegangan di kawasan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Bagi pasar minyak, setiap perkembangan yang berpotensi mengganggu keamanan jalur distribusi energi akan segera dibaca sebagai risiko tambahan terhadap pasokan global.

Ketegangan Selat Hormuz kembali jadi sorotan

Selat Hormuz kembali menjadi titik perhatian utama karena jalur ini merupakan rute penting bagi pengiriman komersial. Kekhawatiran terhadap gangguan di selat tersebut mendorong pelaku pasar bersikap lebih waspada, terutama setelah serangan terbaru AS di Iran menambah ketidakpastian situasi keamanan di sekitar jalur pelayaran.

Meski harga minyak naik pada perdagangan terbaru, pergerakan itu belum sepenuhnya membalik tren sebelumnya. Harga minyak tercatat telah turun lebih dari 10% sejak 18 Mei 2026. Penurunan itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan menunda serangan militer besar terhadap Iran untuk memberi ruang negosiasi. Pasar kala itu sempat membaca adanya peluang deeskalasi, sehingga tekanan pada harga minyak ikut mereda.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pembicaraan dengan Iran telah menunjukkan kemajuan. Ia menegaskan Trump masih mengutamakan jalur diplomasi dan akan memberikan kesempatan penuh agar negosiasi berhasil. Pernyataan ini menjadi salah satu faktor yang sebelumnya menahan kenaikan harga, meskipun ketegangan di lapangan belum benar-benar hilang.

AS dan Iran diketahui masih terlibat kebuntuan terkait pengelolaan Selat Hormuz meski sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata rapuh pada April lalu. Dalam situasi yang belum stabil itu, setiap pernyataan dari kedua pihak dapat memicu perubahan sentimen pasar secara cepat, terutama di komoditas energi yang sangat peka terhadap risiko geopolitik.

Televisi pemerintah Iran bahkan mengklaim Teheran telah menyepakati draft nota kesepahaman dengan AS untuk membuka kembali jalur pelayaran komersial di Hormuz seperti sebelum perang. Namun, Gedung Putih membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai fabrikasi. Trump juga menegaskan tidak ada pihak yang akan menguasai Selat Hormuz. Saling bantah ini memperlihatkan masih jauhnya kepastian mengenai arah pembicaraan kedua negara.

Amos Hochstein, mantan penasihat energi senior Presiden AS Joe Biden, mengatakan banyak pemimpin di Timur Tengah percaya Iran secara efektif telah menguasai Selat Hormuz. Menurutnya, persepsi tersebut tetap akan bertahan terlepas dari isi kesepakatan yang sedang dinegosiasikan. Pandangan semacam ini ikut menjelaskan mengapa pasar minyak mudah bereaksi bahkan sebelum ada gangguan fisik yang benar-benar terjadi pada pasokan.

Pasar mulai stabil, tetapi inflasi tetap membayangi

Citigroup atau Citi menilai pasar minyak mulai menemukan pijakan yang lebih stabil karena investor mulai mengurangi kekhawatiran skenario terburuk gangguan pasokan energi. Namun, bank tersebut tetap melihat risiko belum hilang sepenuhnya. Ketidakpastian mengenai waktu tercapainya kesepakatan masih membuat bank sentral global waspada terhadap potensi inflasi akibat lonjakan harga energi.

Citi juga memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak yang berlangsung lebih lama mulai menimbulkan tekanan inflasi yang lebih luas. Jika kondisi itu berlanjut, sejumlah bank sentral dinilai dapat mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat atau hawkish. Dengan kata lain, efek dari lonjakan harga minyak tidak hanya berhenti pada pasar komoditas, tetapi juga berpotensi merembet ke kebijakan ekonomi yang lebih luas.

Di tengah situasi yang masih bergerak cepat, pelaku pasar tampak menimbang dua hal sekaligus: peluang diplomasi yang masih terbuka dan risiko eskalasi yang belum benar-benar tertutup. Kombinasi inilah yang membuat harga minyak bergerak naik tajam ketika ketegangan kembali memanas, meski tren jangka pendek sebelumnya sempat menunjukkan pelemahan.

Selama ketidakpastian di Iran dan Selat Hormuz belum mereda, volatilitas pada harga minyak kemungkinan masih akan menjadi perhatian utama pasar global. Para investor, bank sentral, dan pelaku energi kini sama-sama mencermati apakah perkembangan berikutnya akan mengarah pada penurunan tensi atau justru memunculkan tekanan baru pada pasokan dan inflasi.