Hukum & Kriminal

Mahasiswa UNP Meminta Kampus Bersikap Tegas dan Transparan Pasca Kejadian Peluru Nyasar

1
×

Mahasiswa UNP Meminta Kampus Bersikap Tegas dan Transparan Pasca Kejadian Peluru Nyasar

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa UNP Minta Kampus Tegas dan Pengungkapan Transparan Pasca Kejadian Peluru Nyasar Regional 4 Juni 2026
Ilustrasi: Mahasiswa UNP Minta Kampus Tegas dan Pengungkapan Transparan Pasca Kejadian Peluru Nyasar

jurnalistik.co.id – Mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) meminta kampus mengambil langkah tegas serta memastikan pengungkapan kasus peluru nyasar dilakukan secara transparan.

Permintaan itu muncul setelah kejadian peluru nyasar di kawasan depan Rektorat UNP, Padang, Sumatera Barat, yang dilaporkan terjadi pada Selasa (2/6/2026). Dua korban dilaporkan mengalami luka-luka dan menjalani perawatan.

Para mahasiswa menyampaikan kekhawatiran karena peristiwa serupa dinilai telah berulang. Mereka juga mengatakan rasa takut masih menghantui setelah kejadian tersebut.

Salah satu mahasiswa, Rozi Hardian, yang berasal dari Teknik Mesin, menilai kejadian itu berkaitan dengan aktivitas latihan tembak. Ia meyakini peristiwa peluru nyasar terjadi akibat latihan yang dilakukan TNI saat kejadian.

Menurut Rozi, lokasi kejadian berada di dekat lapangan tembak sehingga arah tembakan dinilai dapat diprediksi. Ia menegaskan bahwa informasi mengenai keberadaan lapangan tembak sudah diketahui di sekitar area kampus.

Rozi menyatakan, “Semua kita tahu bahwa didekat sini ada lapangan tembak. Tentu sudah bisa diprediksi pelurunya dari mana,” ujarnya.

Meski demikian, Rozi menilai kampus belum mengambil tindakan tegas setelah insiden terjadi. Ia memandang bahwa karena kejadian terjadi lebih dari satu kali, seharusnya ada langkah pencegahan yang lebih jelas agar peristiwa tidak terulang.

Ia juga menilai langkah minimal yang perlu dilakukan adalah penutupan serta pemindahalan lokasi lapangan tembak. Rozi menekankan perlunya keputusan konkret terkait pengaturan tempat latihan.

“Minimal kampus harus tegas, apakah meminta lapangan tembak ditutup, dipindahkan lokasinya atau sudut menembaknya,” jelas Rozi.

Mahasiswa lain, Nurul Fikri, turut menyampaikan harapannya agar kasus ini tidak berhenti pada penanganan korban. Ia menilai proses pengusutan harus berjalan tuntas, sehingga tidak ada korban lain yang mengalami dampak serupa di masa mendatang.

Fikri mengatakan ia tidak ingin kasus ini menimbulkan korban baru sementara pertanggungjawaban tidak jelas. Ia berharap proses pengungkapan dilakukan terbuka dan disertai penegakan hukum sesuai mekanisme yang berlaku.

“Saya harap proses pengungkapannya transparan dan pelaku bisa diadili dengan hukum semestinya,” tegas Fikri.

Dalam pandangan mahasiswa, ketegasan kampus menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. Mereka menilai tanggung jawab tidak hanya pada penanganan medis, tetapi juga pada pengambilan kebijakan yang mencegah insiden serupa terulang.

Para mahasiswa juga mengaitkan kekhawatiran mereka dengan pola kejadian yang dinilai sudah berulang. Hal itu membuat mereka meminta adanya pembenahan, termasuk keputusan mengenai penutupan atau perubahan lokasi serta sudut aktivitas latihan.

Selain itu, mahasiswa mendorong adanya proses pengungkapan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Mereka menilai transparansi dibutuhkan agar masyarakat mengetahui perkembangan penyelidikan dan langkah hukum yang akan diambil.

Dengan demikian, tuntutan yang disampaikan mahasiswa UNP mencakup dua hal utama. Pertama, kampus diminta tegas dalam mencegah kejadian berulang melalui langkah penutupan, pemindahan, atau penyesuaian sudut latihan tembak. Kedua, pengungkapan kasus diminta berjalan transparan dan berujung pada proses hukum yang adil.

Mahasiswa berharap langkah yang diambil kampus dapat meredakan rasa takut yang selama ini menyertai para pelajar di area kampus. Mereka juga menegaskan pentingnya kepastian bahwa pelaku dapat diproses sesuai hukum agar tidak ada korban lain yang berjatuhan akibat peluru nyasar.

Selain menyoroti aspek keselamatan, mahasiswa juga meminta kampus menegaskan standar pengamanan ketika latihan berlangsung, termasuk pengaturan area sekitar yang berpotensi terdampak. Mereka berharap ada evaluasi menyeluruh agar kegiatan latihan tidak menimbulkan risiko baru bagi warga kampus maupun pihak yang berada di sekitar lokasi.

Mereka juga mendorong agar setiap tahapan pemeriksaan dan keputusan berikutnya bisa dipahami publik, sehingga tidak muncul kecurigaan bahwa kasus berhenti pada penanganan sesaat. Dengan adanya kepastian arah penyelidikan dan kejelasan langkah hukum, mahasiswa berharap rasa takut yang masih dirasakan bisa berkurang, sementara pencegahan atas insiden serupa mendapat perhatian yang nyata.