jurnalistik.co.id – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid mengaku sempat mengajak massa untuk berselawat bersama saat panggung diskusi di Universitas Gadjah Mada (UGM) berubah gaduh.
“Karena ramai dan gaduh, saya ajak selawatan,” kata Nusron kepada Kompas.com, Selasa (16/6/2026) dini hari.
Diskusi tersebut digelar di joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM di Yogyakarta, pada Senin (15/6/2026) tadi malam. Dalam kesempatan itu, Nusron bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dan Kepala BP Taskin Budiman Sudjatmiko menjadi narasumber.
Menurut Nusron, pada awalnya diskusi belum memasuki sesi tanya jawab. Namun situasi kemudian berubah menjadi lebih ribut.
Ketika keadaan dinilai tidak kondusif, Nusron dan Sudaryono dievakuasi pihak keamanan agar meninggalkan panggung, meski Nusron tidak setuju istilah “evakuasi”.
“Enggak ada evakuasi. Kayak kebakaran atau bencana alam saja,” ujarnya.
Setelah meninggalkan panggung, mobil dua pejabat tersebut ternyata diikuti massa. Nusron dan Sudaryono kemudian turun dan bersila dengan maksud hendak melayani dialog dengan massa.
“Terus mereka mengajak dialog, ya saya layani. Wong niat saya dan Pak Wamentan datang memang untuk diskusi dengan mahasiswa,” kata Nusron.
Nusron menegaskan bahwa ia bersedia berdialog selama situasinya tetap berjalan dengan cara yang tidak memicu keributan. Ia mengungkapkan bahwa sikapnya akan berbeda bila suasana sudah berubah menjadi dorong-mendorong atau saling memaksa.
“Kalau ngajak dialog ya saya senang. Kalau marah-marah dan ngotot-ngototan ya saya enggak mau melayani. Wong saya sudah tua dan malam 1 Muharram, masak gegeran?” ujar Nusron.
Meskipun diskusi di kampus Bulaksumur, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta sempat ribut, Nusron mengatakan dirinya dalam kondisi baik.
Budiman Sudjatmiko dievakuasi ke arah berbeda
Sementara itu, Budiman Sudjatmiko menyampaikan bahwa ia tidak berada dalam rombongan yang sama dengan Nusron dan Sudaryono saat proses meninggalkan lokasi berlangsung. Budiman mengatakan pihak keamanan menariknya ke arah yang berbeda.
“Saya ditarik ke pintu samping, mereka berdua ditarik ke arah pintu yang lain. Beda arah,” kata Budiman Sudjatmiko, dihubungi Kompas.com secara terpisah.
Budiman menuturkan bahwa ia sebenarnya masih ingin berdiskusi. Namun menurutnya, kondisi saat itu sudah tidak kondusif sehingga ia memahami kekhawatiran petugas keamanan.
“Tapi tadi sayangnya kondisinya sudah tidak kondusif. Petugas keamanan mengkhawatirkan kondisi yang semakin tidak kondusif apabila saat itu kita semua masih berada di dalam gedung. Saya sendiri sebenarnya tidak keberatan untuk tetap menemui mahasiswa di dalam gedung,” ujarnya.
Dari penuturan tersebut, terlihat bahwa setelah suasana berubah gaduh, proses penanganan dilakukan dengan memisahkan rombongan, termasuk perbedaan arah evakuasi. Nusron dan Sudaryono menyampaikan bahwa langkah yang diambil kemudian diarahkan pada dialog, sementara Budiman menekankan bahwa niatnya tetap ingin berdiskusi meski akhirnya situasi tidak memungkinkan.
Dalam kronologi yang ia sampaikan, Nusron menggambarkan perubahan situasi dari suasana awal yang lebih tenang hingga suasana yang kemudian menjadi sulit dikendalikan. Setelah jeda diskusi yang semula belum memasuki tanya jawab, keramaian yang meningkat membuat pihak penyelenggara mengambil langkah pengamanan.
Ia menekankan bahwa keputusan untuk meninggalkan panggung tidak dimaknai sebagai perlakuan yang keras, melainkan sebagai tindakan yang menurutnya setara dengan respons keadaan darurat. Nusron juga menilai, dialog tetap menjadi tujuannya sejak awal kedatangan, sehingga ketika massa terus mengajak berkomunikasi setelah kendaraan rombongan diikuti, ia memilih untuk turun dan menyesuaikan pendekatan menjadi forum bersila dengan mahasiswa.
Sementara itu, Budiman Sudjatmiko menjelaskan adanya pemisahan saat proses penanganan berlangsung, dengan arahnya berbeda dari Nusron dan Sudaryono. Budiman menyatakan ia memahami kekhawatiran petugas keamanan karena kondisi dinilai bisa makin tidak kondusif apabila seluruh pihak tetap berada di dalam gedung, meski ia mengaku tetap ingin melanjutkan pembahasan apabila situasi memungkinkan.












