jurnalistik.co.id – NEW DELHI — Pendiri gerakan satir Cockroach Janta Party (CJP) di India berjanji akan memimpin aksi protes damai di New Delhi, meski mengaku orang-orang terdekatnya khawatir ia akan ditangkap begitu tiba di negaranya. Gerakan yang dijuluki “Partai Rakyat Kecoak” itu muncul sebagai respons atas pernyataan Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, yang menyebut anak muda pengangguran yang mengkritik pemerintah sebagai “kecoak” dan “parasit” dalam sebuah persidangan. Nama CJP sendiri sengaja dibuat menyerupai Bharatiya Janata Party (BJP), partai nasionalis Hindu yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi.
Gerakan ini diluncurkan sejak bulan lalu dan langsung menyedot perhatian publik. Dalam penjelasannya, Kant kemudian mengklarifikasi bahwa pernyataannya soal kecoak dan parasit sebenarnya ditujukan kepada pihak yang menggunakan ijazah palsu. Meski begitu, nama dan simbolisme yang dipilih CJP sudah telanjur menjadi bahan perbincangan luas, terutama karena gerakan itu dibangun sebagai bentuk satir atas politik, sosial, dan ekonomi di India.
Abhijeet Dipke, lulusan Universitas Boston berusia 30 tahun yang berada di balik gerakan tersebut, mengatakan melalui platform media sosial X bahwa ia akan kembali ke India untuk memimpin “aksi protes damai” pada Sabtu (6/6/2026). Dalam pesan video yang diunggah secara daring, Dipke juga menyerukan pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan, yang tengah menghadapi kritik terkait dugaan penyimpangan dalam sejumlah ujian penting.
“Para pelajar telah bunuh diri dan kerja keras puluhan ribu pelajar telah dihancurkan,” kata Dipke, seperti dikutip AFP. Pernyataan itu menjadi salah satu inti pesan yang ia sampaikan kepada para pendukungnya, yang menurut dia perlu bergerak bersama untuk menyuarakan keberatan mereka. Ia bahkan mengajak para simpatisan untuk menemuinya di bandara New Delhi sebelum bersama-sama mengajukan izin kepada polisi agar demonstrasi bisa digelar secara resmi dan damai.
CJP menyebut dirinya sebagai “front politik untuk anak muda, oleh anak muda, dan bagi anak muda”. Namun, gerakan ini juga menghadapi hambatan. Akun media sosial mereka dilaporkan berulang kali diblokir di India, tanpa mengurangi atensi publik yang justru semakin besar sejak kemunculannya. Di tengah pembatasan itu, CJP tetap berhasil menempatkan dirinya di pusat percakapan politik digital di India.
Popularitasnya bahkan terus melonjak. Akun Instagram CJP kini memiliki lebih dari 22 juta pengikut, jumlah yang lebih dari dua kali lipat dibanding BJP yang memiliki 9,5 juta pengikut di platform yang sama. Angka itu juga melampaui jumlah pengikut Partai Kongres, oposisi utama pemerintah, yang mencapai 13,9 juta. Di ruang digital, CJP telah berkembang menjadi simbol perlawanan yang tak bisa lagi diabaikan, setidaknya dari sisi jangkauan dan resonansi publik.
Dipke mengakui bahwa orang-orang terdekatnya khawatir ia akan ditangkap setibanya di India. “Teman-teman dan keluarga saya takut saya akan ditangkap tepat di bandara dan kemudian dijebloskan ke penjara,” ujarnya. Meski begitu, ia tetap menaruh harapan bahwa protes damai masih mungkin digelar. “Tetapi saya tetap berharap negara kita masih merupakan demokrasi saat ini dan kami akan diberikan izin untuk melakukan protes secara damai,” kata Dipke.
Kekhawatiran itu tak muncul tanpa alasan. Pemerintahan Modi selama ini berulang kali dituduh oleh para pengkritiknya menggunakan lembaga-lembaga negara untuk membungkam perbedaan pendapat. Dalam konteks itulah, langkah Dipke untuk pulang dan memimpin demonstrasi menjadi sorotan, bukan hanya karena satir politik yang diusung CJP, tetapi juga karena ia memilih untuk tetap melangkah di tengah ancaman penangkapan yang, menurut orang-orang terdekatnya, sangat mungkin menunggunya di bandara.








