jurnalistik.co.id – LHOKSUKON — Penyintas banjir di Kabupaten Aceh Utara, Aceh, meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera memperbaiki hunian sementara yang rusak akibat angin kencang pada 2 Juni 2026. Kerusakan itu membuat ratusan jiwa kembali kehilangan tempat tinggal dan terpaksa menumpang di rumah kerabat.
Di Kecamatan Langkahan, tercatat 85 unit hunian sementara mengalami kerusakan akibat terjangan angin kencang yang datang pada Selasa (2/6/2026) sore. Bagi para penyintas, kerusakan tersebut menjadi pukulan baru setelah sebelumnya mereka lebih dulu terdampak banjir besar di Aceh Utara.
RATUSAN JIWA KEMBALI MENGUNGSI
Penjabat Keuchik atau Kepala Desa Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Fakhrurrazi, mengatakan ada 37 unit hunian sementara penyintas banjir di desanya yang rusak dan hancur karena angin kencang. Kondisi itu membuat 23 jiwa pengungsi kembali berpindah tempat tinggal dan belum bisa bertahan di hunian yang disiapkan sebelumnya.
“Sebanyak 23 jiwa pengungsi sekarang ini. Kami harap, BNPB bisa memperbaiki dalam waktu singkat. Agar warga bisa kembali ke Huntara,” terangnya pada Rabu (3/6/2026).
Menurut dia, kerusakan huntara bukan hanya soal bangunan yang roboh atau tidak layak huni, tetapi juga soal kepastian tempat berlindung bagi warga yang masih berada dalam masa pemulihan. Karena itu, ia berharap perbaikan dilakukan secepat mungkin agar para penyintas tidak terus bergantung pada rumah saudara.
Fakhrurrazi juga meminta jatah hidup atau jadup bagi penyintas banjir di desanya segera disalurkan. Ia menilai bantuan itu penting untuk meringankan beban warga yang sudah kehilangan rumah akibat banjir sebelumnya, lalu kembali terdampak ketika huntara yang mereka tempati ikut rusak.
“Ini cobaan untuk kami, sudah terkena banjir 26 November 2025 lalu dan rumah hancur, kini Huntara juga hancur. Tolong ini diperbaiki secepatnya,” terangnya.
Permintaan serupa juga muncul dari penyintas lain yang kini harus menyesuaikan diri dengan kondisi darurat baru. Bagi mereka, huntara bukan sekadar bangunan sementara, melainkan tempat berteduh sambil menunggu proses pemulihan yang belum selesai.
RESPONS BNPB
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, yang dihubungi terpisah, menyebut lembaga itu akan segera memperbaiki hunian sementara yang rusak karena angin kencang. Ia menegaskan, jika terjadi kerusakan pada huntara akibat bencana susulan atau bencana lainnya, maka perbaikan akan dilakukan.
“Jika ada kerusakan Huntara akibat bencana susulan atau bencana lainnya akan diperbaiki,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 58 unit hunian sementara dan satu mushalla rusak akibat angin kencang pada 2 Juni 2026 sore. Kerusakan itu tersebar di beberapa desa di Kecamatan Langkahan dan menambah daftar fasilitas sementara yang harus ditangani pascabencana.
Rinciannya, 36 unit huntara bantuan BNPB di Desa Rumoh Rayeuk mengalami kerusakan. Dari jumlah itu, 11 unit rusak berat, 20 unit rusak sedang, dan 5 unit rusak ringan. Sementara itu, di Desa Langkahan terdapat 5 unit huntara bantuan BNPB yang mengalami kerusakan ringan.
Di Desa Buket Linteung, 7 unit huntara dan satu unit musala yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum juga terdampak. Adapun di Desa Geudumbak, 10 unit huntara yang dibangun BNPB secara in situ ikut mengalami kerusakan, dengan rincian 4 unit rusak berat, 4 unit rusak sedang, dan 2 unit rusak ringan.
Kondisi itu menunjukkan bahwa angin kencang tidak hanya merusak rumah warga yang sudah kehilangan tempat tinggal, tetapi juga menghantam fasilitas penyangga yang disiapkan untuk masa darurat. Di tengah situasi tersebut, penyintas berharap perbaikan bisa segera dilakukan agar mereka tidak kembali hidup dalam ketidakpastian.
Bagi warga yang sudah melewati banjir, kehilangan rumah, lalu kembali berhadapan dengan rusaknya huntara, yang dibutuhkan sekarang adalah kecepatan penanganan dan kepastian bantuan. Mereka ingin bisa kembali ke tempat yang layak, meski sementara, sembari menunggu pemulihan yang lebih permanen.










