jurnalistik.co.id – PADANG — Tim medis berhasil mengeluarkan proyektil peluru yang bersarang di tubuh salah satu korban peluru nyasar di depan Gedung Rektorat Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat. Setelah tindakan operasi selesai dilakukan, kondisi dua korban disebut berangsur membaik dan keduanya masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Insiden tersebut terjadi pada Selasa (2/6/2026) sore dan membuat dua orang dilaporkan menjadi korban. Mereka adalah Nova Wirantika (25), mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial UNP, dan Guruh Gurino. Dalam kejadian itu, sebutir proyektil sempat tertanam di paha kiri Nova sehingga perlu tindakan medis segera agar benda tersebut bisa dikeluarkan.
Kapendam XX/Tuanku Imam Bonjol, Letkol Kav Taufiq, mengatakan operasi terhadap Nova telah rampung di Rumah Sakit Tentara (RST) Reksodiwiryo, Padang. Ia menyebut proses pengeluaran proyektil berlangsung pada Selasa malam dan berjalan tanpa hambatan.
“Proses pengeluaran proyektil dilakukan sekitar pukul 22.30 WIB kemarin (Selasa). Semua berjalan lancar,” ujar Taufiq saat dihubungi Kompas.com, Rabu (3/6/2026).
Menurut Taufiq, setelah tindakan itu dilakukan, kondisi kedua korban mulai menunjukkan perbaikan. Pihak keluarga juga telah berada di rumah sakit untuk mendampingi mereka selama masa pemulihan. Meski begitu, keduanya belum diperbolehkan pulang dan masih harus menjalani perawatan di ruang rawat inap agar proses pemulihan dapat berlangsung lebih cepat.
Di sisi lain, TNI menegaskan akan mengawal kasus ini sampai tuntas. Selain itu, pihaknya juga menjamin seluruh akomodasi medis para korban agar penanganan kesehatan tidak menjadi beban tambahan bagi keluarga. Pernyataan ini disampaikan di tengah perhatian publik terhadap insiden peluru nyasar yang terjadi di lingkungan kampus tersebut.
Perbedaan ukuran proyektil
Menanggapi proyektil yang berhasil diangkat dari paha kiri Nova, Taufiq menjelaskan ada perbedaan ukuran dengan peluru yang dipakai dalam latihan TNI. Ia menerangkan bahwa latihan itu memang berlangsung pada waktu yang sama dengan kejadian, meski jarak lokasi latihan dengan titik insiden disebut mencapai 800 meter.
“Proyektil yang berhasil dikeluarkan berukuran 9 milimeter, kemungkinan dari senjata laras pendek,” ujarnya.
Adapun dalam latihan yang berlangsung saat kejadian, pihaknya menggunakan senjata laras panjang dengan ukuran peluru 5.56 milimeter. Keterangan itu menjadi salah satu poin yang tengah diperhatikan dalam penelusuran asal peluru yang melukai dua orang di area UNP tersebut.
Dengan kondisi yang mulai membaik, perhatian kini tertuju pada proses pemulihan kedua korban serta penanganan lanjutan dari pihak terkait. Meski proyektil telah dikeluarkan, Nova dan Guruh masih memerlukan observasi medis di ruang rawat inap sebelum dinyatakan lebih stabil.
Kasus ini juga menambah sorotan terhadap insiden peluru nyasar di lingkungan UNP. Hingga kini, TNI menyatakan akan terus mengawal proses penyelidikan agar asal peluru yang menyebabkan luka pada dua korban bisa dipastikan secara tuntas.
Meski tindakan medis sudah selesai dilakukan, masa pemulihan keduanya masih menjadi fokus utama. Dalam situasi seperti ini, pemantauan lanjutan di rumah sakit dinilai penting agar tenaga medis bisa memastikan tidak ada keluhan tambahan yang muncul setelah operasi. Kehadiran keluarga di ruang perawatan juga menjadi penopang bagi para korban selama menjalani masa observasi, terutama karena insiden ini terjadi secara tiba-tiba dan menimbulkan luka yang cukup serius.
Perhatian publik pun masih tertuju pada upaya mencari kejelasan mengenai asal proyektil yang mengenai korban. Keterangan tentang perbedaan ukuran peluru, jenis senjata yang digunakan dalam latihan, serta jarak lokasi latihan dengan titik kejadian menjadi bagian penting yang terus diperhatikan dalam penelusuran kasus ini. Karena itu, pernyataan bahwa proses akan dikawal sampai selesai menjadi penegasan bahwa insiden tersebut tidak berhenti pada penanganan medis semata.
Di tengah situasi yang belum sepenuhnya tuntas, kondisi kedua korban yang mulai membaik menjadi kabar yang melegakan. Namun, pemulihan fisik tetap membutuhkan waktu dan kehati-hatian agar mereka benar-benar stabil sebelum diperbolehkan pulang. Kasus ini sekaligus meninggalkan perhatian besar terhadap keamanan di sekitar lingkungan kampus, mengingat peristiwa tersebut terjadi di area yang semestinya menjadi ruang aktivitas akademik yang aman bagi mahasiswa dan warga sekitar.












