Peristiwa

Super New Moon, BMKG Maritim Ingatkan Potensi Banjir Rob di Pesisir Jatim

0
×

Super New Moon, BMKG Maritim Ingatkan Potensi Banjir Rob di Pesisir Jatim

Sebarkan artikel ini
Ada Fenomena Super New Moon, BMKG Ingatkan Potensi Banjir Rob di Wilayah Pesisir Jatim Regional 8 Juni 2026
Ilustrasi: Ada Fenomena Super New Moon, BMKG Ingatkan Potensi Banjir Rob di Wilayah Pesisir Jatim

jurnalistik.co.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maritim mengingatkan potensi banjir rob di sejumlah wilayah pesisir Jawa Timur. Peringatan ini dikaitkan dengan fenomena Super New Moon yang diprediksi berpengaruh terhadap kenaikan tinggi muka air laut.

Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak, Daryatno, menjelaskan bahwa Super New Moon merupakan kondisi ketika fase Bulan Baru bertepatan dengan titik perigee. Titik perigee adalah posisi ketika jarak Bulan berada paling dekat dengan bumi.

Daryatno menyebut fenomena tersebut akan terjadi mulai 15 Juni 2026. Ia juga menegaskan bahwa perubahan kondisi pasang surut berpotensi mendorong kenaikan air laut hingga mencapai puncaknya.

“Fenomena Super New Moon ini nantinya berpotensi meningkatkan ketinggian air laut sampai ke tingkat maksimum,” kata Daryatno, Senin (8/6/2026).

Menurut BMKG Maritim, potensi banjir rob disusun berdasarkan pantauan data water level serta prediksi pasang surut. Dengan pertimbangan tersebut, banjir rob diperkirakan dapat terjadi di beberapa wilayah pesisir Indonesia, termasuk pesisir Jawa Timur.

Wilayah pesisir Jawa Timur yang diperkirakan terdampak

Pesisir Tuban, Lamongan, dan Gresik diperkirakan mengalami banjir rob pada 16 Juni 2026. Perkiraan waktu tersebut mengikuti dinamika pasang maksimum yang diprediksi terjadi di periode fenomena berlangsung.

Pesisir Surabaya, termasuk Sidoarjo dan Pasuruan, diperkirakan akan terjadi pada rentang 13–17 Juni 2026. Rentang tanggal ini menunjukkan kemungkinan dampak yang tidak hanya terpusat pada satu hari.

Pelabuhan Surabaya diperkirakan mengalami banjir rob pada rentang 12–18 Juni 2026. Periode yang lebih panjang tersebut menjadi perhatian khusus karena kawasan pelabuhan memiliki aktivitas yang padat dan sensitif terhadap gangguan pasang.

Adapun pesisir Banyuwangi diperkirakan akan terjadi pada 13–18 Juni 2026. BMKG Maritim menempatkan periode ini sebagai jendela yang perlu diantisipasi sejak awal untuk mengurangi risiko aktivitas yang terganggu.

Pesisir Kalianget diperkirakan akan terjadi pada 15–16 Juni 2026. BMKG Maritim juga menganjurkan kewaspadaan mengingat kondisi tinggi muka air dapat berubah mengikuti pola pasang surut harian.

BMKG Maritim mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi banjir rob di wilayah pesisir yang akan berdampak pada aktivitas di sekitar pelabuhan dan pesisir. Di antaranya, aktivitas bongkar muat di pelabuhan berpotensi terganggu selama periode pasang maksimum.

Selain itu, keberadaan pemukiman penduduk di sekitar pesisir juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Kenaikan air laut pada saat banjir rob dapat memengaruhi kondisi lingkungan dan aktivitas harian warga.

BMKG Maritim juga menyoroti sektor usaha yang berada di wilayah pesisir, termasuk tambak garam dan perikanan darat. Gangguan akibat pasang tinggi dapat memengaruhi operasional serta proses kerja di lokasi-lokasi tersebut.

“Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan siaga untuk mengantisipasi dampak dari pasang maksimum air laut dan terus memantau perkembangannya di BMKG,” pungkasnya.

Dengan mempertimbangkan prediksi ketinggian air laut dan jadwal potensi banjir rob di berbagai titik pesisir Jawa Timur, kewaspadaan sejak awal periode menjadi langkah penting. Masyarakat diminta menyesuaikan aktivitas dengan perkembangan informasi dari BMKG agar dampak di lapangan dapat diantisipasi lebih baik.

BMKG Maritim menjelaskan bahwa penetapan potensi banjir rob dilakukan melalui rangkaian pantauan ketinggian muka air yang dipadukan dengan proyeksi pasang surut, sehingga peringatan dapat disesuaikan dengan dinamika di lapangan.

Dalam periode kemunculan Super New Moon, perubahan pasang surut yang berlangsung berulang setiap hari dapat membuat kondisi air laut lebih tinggi dibanding waktu normal, sehingga kewaspadaan perlu terus dijaga terutama di jam-jam ketika air berada pada puncak.

Untuk mencegah gangguan aktivitas, masyarakat dan pihak terkait di area pesisir diharapkan menyiapkan langkah antisipasi lebih awal, mengingat beberapa titik diprediksi mengalami rentang waktu terdampak yang tidak hanya terjadi sekali melainkan beberapa hari.

Selain risiko terhadap pelabuhan dan aktivitas bongkar muat, kenaikan muka air pada saat pasang tinggi juga dapat berdampak pada lingkungan sekitar pesisir, termasuk aktivitas di tambak garam dan perikanan darat yang bergantung pada kondisi perairan setempat.