Hukum & Kriminal

Video Viral Pengeroyokan Siswa SMP di Baubau, Warga Membubarkan Pelaku

×

Video Viral Pengeroyokan Siswa SMP di Baubau, Warga Membubarkan Pelaku

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Penonton Cuma Diam, Warga Akhirnya Turun Tangan Bubarkan Pengeroyokan Siswa SMP di Baubau

jurnalistik.co.id – Sebuah video yang menampilkan pengeroyokan antarsiswa SMP di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, menjadi viral di media sosial pada Kamis (30/7/2026). Dalam rekaman itu, warga terlihat akhirnya turun tangan untuk membubarkan pelaku setelah sebelumnya penonton cenderung hanya menyaksikan.

Peristiwa tersebut terjadi di Lapangan Lembah Hijau, Kelurahan Tomba, Kecamatan Wolio. Berdasarkan informasi yang dihimpun di sekolah, kejadian berlangsung pada Selasa (28/7/2026), sesaat setelah para siswa pulang sekolah.

Video memperlihatkan puluhan siswa yang berpakaian sekolah berkumpul di lapangan. Saat warga mendatangi lokasi dan mencoba menghentikan aksi, para siswa yang diduga terlibat langsung melarikan diri.

Di tengah kericuhan, warga melihat seorang siswa yang diduga menjadi korban tampak duduk lemas dengan kondisi memprihatinkan. Warga kemudian memberikan pertolongan kepada korban sekaligus berupaya mencari siswa-siswa yang diduga terlibat pengeroyokan.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Negeri 17 Baubau, Darwin Daud, membenarkan bahwa baik korban maupun pelaku merupakan siswanya. Ia menyampaikan hasil investigasi sementara menunjukkan perselisihan antarsiswa bermula saat jam istirahat di sekolah.

Darwin menjelaskan, “Awalnya saat jam istirahat terjadi saling dorong, kemudian muncul ketersinggungan sehingga persoalan itu berlanjut di luar sekolah,” kata Darwin saat ditemui di sekolah, Kamis.

Sejauh ini, pihak sekolah masih mengumpulkan bukti dan informasi untuk memastikan kronologi lengkap peristiwa tersebut. Darwin menyatakan pihaknya juga telah memanggil korban maupun pelaku untuk didalami.

Darwin mengatakan, “Iya, korban diduga dikeroyok oleh teman-temannya. Kami sudah mengumpulkan bukti dan informasi untuk mengetahui kronologi sebenarnya. Selanjutnya kami akan memanggil masing-masing orang tua siswa yang terlibat,” ujarnya.

Selain mendalami keterangan siswa, sekolah turut melakukan proses pemeriksaan melalui guru bimbingan konseling. Pada Kamis (30/7/2026), Darwin menyebut ada siswa yang sedang dimintai keterangan berdasarkan hasil pemetaan awal dari peristiwa di video.

“Ada dua siswa yang sementara diperiksa hari ini. Dalam video itu banyak yang menonton pengeroyokan itu, namun sangat disayangkan mengapa teman-temannya tidak ada yang melerai,” ucap Darwin.

Ia juga menyinggung kondisi di lokasi yang sempat memperlihatkan banyak penonton di antara siswa. Menurut Darwin, tindakan yang seharusnya dapat menghentikan kejadian tidak dilakukan oleh rekan-rekan yang ada di lapangan.

Ke depan, SMP Negeri 17 Baubau berencana memanggil seluruh siswa yang diduga terlibat bersama orang tua masing-masing. Pemanggilan dilakukan untuk mengklarifikasi rangkaian kejadian sekaligus memberikan pembinaan agar kasus serupa tidak terulang.

Melalui langkah itu, sekolah berupaya memastikan setiap pihak memahami hasil klarifikasi dan tindakan yang diperlukan. Penanganan juga diarahkan agar persoalan yang bermula dari dorongan dan ketersinggungan antarsiswa tidak berkembang hingga berujung pada kekerasan yang membahayakan.

Dalam pengumpulan informasi, sekolah juga menilai isi rekaman video sebagai dasar pemetaan awal keterlibatan siswa. Dari pemetaan tersebut, pihak sekolah kemudian menentukan siapa saja yang perlu didalami lebih lanjut agar versi kejadian tidak hanya bertumpu pada pengakuan sepihak dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selain klarifikasi, proses pemeriksaan diarahkan melalui jalur pembinaan di sekolah. Darwin menyebut adanya pemeriksaan yang melibatkan guru bimbingan konseling untuk menggali faktor pemicu di lingkungan sekolah, termasuk bagaimana perselisihan yang bermula saat jam istirahat bisa terus merembet hingga di luar area sekolah.

Untuk mencegah kasus serupa terulang, langkah lanjutan sekolah berfokus pada komunikasi dengan seluruh pihak terkait. Seluruh siswa yang diduga terlibat akan dipanggil bersama orang tua masing-masing guna mengklarifikasi kronologi, memahami hasil pendalaman, serta menerima pembinaan. Dengan cara itu, sekolah berharap persoalan yang bermula dari dorongan dan ketersinggungan tidak berkembang menjadi kekerasan yang berisiko melukai siswa lain.