Daerah

Apa Perbedaan Kartu JakLingko Hitam dan JakLingko Biru?

0
×

Apa Perbedaan Kartu JakLingko Hitam dan JakLingko Biru?

Sebarkan artikel ini
Apa Bedanya Kartu JakLingko Hitam dengan JakLingko Biru? News 8 Juni 2026
Ilustrasi: Apa Bedanya Kartu JakLingko Hitam dengan JakLingko Biru?

jurnalistik.co.id – Jakarta kini menyediakan kartu transportasi umum JakLingko berwarna hitam agar pengguna dapat memanfaatkan skema tarif integrasi antarmoda.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Budi Awaluddin, menjelaskan bahwa kartu ini dipakai untuk akses layanan integrasi multimoda.

JakLingko Card hitam untuk integrasi multimoda dengan tarif maksimal Rp10.000

Budi menyebut JakLingko Card hitam dapat digunakan saat naik KRL, Transjakarta, MRT Jakarta, serta LRT Jakarta.

Dengan kartu tersebut, pengguna mendapatkan tarif maksimum sebesar Rp 10.000 untuk perjalanan dalam skema integrasi antarmoda.

“Kartu tersebut (JakLingko Card hitam) dipergunakan untuk mengakses layanan integrasi multimoda dengan tarif maksimum Rp 10.000,” kata Budi saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Senin (8/6/2026).

Artinya, pengguna tidak hanya memakai satu moda transportasi, melainkan dapat menyesuaikan perpindahan antar-layanan dalam koridor integrasi.

Dalam penjelasan Budi, kombinasi moda yang disebutkan meliputi KRL, Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta.

Saldo tetap aman lewat aplikasi JakLingko jika kartu hilang

Budi juga memastikan bahwa kartu JakLingko hitam sudah terintegrasi dengan aplikasi JakLingko.

Melalui integrasi tersebut, saldo pengguna dinyatakan tetap aman dan bisa diakses kembali lewat aplikasi apabila kartu hilang.

Dengan demikian, pengguna tidak perlu berhenti memakai layanan hanya karena kartu fisiknya tidak tersedia lagi.

Poin pentingnya adalah akses saldo yang tetap dapat dilakukan melalui aplikasi JakLingko.

Kartu JakLingko biru untuk integrasi Transjakarta dengan tarif maksimal Rp5.000

Selain JakLingko Card hitam, Dishub DKI bersama sejumlah bank juga menerbitkan kartu elektronik baru berwarna biru.

Kartu tersebut disebut dapat digunakan untuk mendapatkan fasilitas integrasi Transjakarta dengan tarif maksimal Rp 5.000.

Budi menyatakan bahwa penerbitan kartu biru dilakukan bersama Bank Jakarta, BNI, BRI, BCA, dan Mandiri.

Penggunaannya juga dibatasi oleh durasi perjalanan dalam skema integrasi.

“Kartu uang elektronik yang dikeluarkan lima bank, BNI, BRI, BCA, Jakarta, Mandiri sudah dibranding JakLingko. Kartu ini bisa digunakan untuk naik Transjakarta dengan tarif Rp 5.000 dengan maksimal 3 jam perjalanan,” ucapnya.

Dalam kutipan tersebut, penegasan ada pada tarif maksimal Rp 5.000 dan batas waktu maksimal 3 jam perjalanan.

Dengan batas waktu itu, skema integrasi Transjakarta menggunakan kartu biru tetap berada dalam rentang perhitungan yang ditetapkan.

Perbedaan utama: plafon tarif dan fokus moda

Jika dibandingkan, JakLingko Card hitam berhubungan dengan integrasi multimoda yang mencakup KRL, Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta.

Sementara itu, kartu JakLingko biru difokuskan pada fasilitas integrasi Transjakarta dengan tarif maksimum Rp 5.000.

Perbedaan lain juga terlihat pada plafon tarif, yaitu Rp 10.000 untuk kartu hitam dan Rp 5.000 untuk kartu biru, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan Budi.

Untuk kartu biru, durasi maksimal 3 jam perjalanan turut menjadi penanda aturan skema integrasinya.

Sedangkan pada kartu hitam, penekanan yang disebutkan adalah tarif maksimum untuk akses integrasi antarmoda multimoda.

Pembelian kartu lewat vending machine di halte dan stasiun

Baik JakLingko Card hitam maupun kartu JakLingko biru bisa dibeli melalui mesin pelayanan otomatis atau vending machine.

Mesin tersebut tersedia di tiap halte dan stasiun.

Langkah pembelian yang disebutkan tidak dibedakan berdasarkan warna kartu, karena keduanya tersedia di titik vending machine pada halte dan stasiun.

Dengan cara ini, pengguna dapat memperoleh kartu integrasi secara langsung pada lokasi layanan transportasi.

Berlaku untuk masyarakat di luar Jakarta

Budi juga menegaskan bahwa kartu integrasi transportasi umum antarmoda ini tidak hanya dikhususkan bagi warga Jakarta.

Kartu tersebut disebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dari daerah lain.

Penegasan ini melengkapi keterangan bahwa fasilitas integrasi menggunakan kartu JakLingko tersedia untuk pengguna yang berasal dari luar wilayah layanan utama.

Dengan demikian, ketentuan penggunaan yang disebutkan tetap menempatkan akses pada skema kartu dan aplikasinya, bukan pada asal domisili pengguna.

Secara keseluruhan, perbedaan JakLingko Card hitam dan JakLingko biru tampak dari moda yang diintegrasikan, plafon tarif yang ditetapkan, serta aturan durasi pada kartu biru.

Penjelasan resmi Budi Awaluddin juga menegaskan aspek keamanan saldo melalui integrasi aplikasi JakLingko, sehingga pengguna dapat mengelola akses ketika kartu fisik hilang.