Bisnis & Ekonomi

Bitcoin Terpuruk ke Rp1,36 Miliar Jelang Libur Idul Adha

0
×

Bitcoin Terpuruk ke Rp1,36 Miliar Jelang Libur Idul Adha

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Bitcoin Terpuruk ke Rp1,36 Miliar Jelang Libur Idul Adha - Teknologi

jurnalistik.co.id – Bloomberg melaporkan, pasar aset kripto terus bergolak dan menyeret volatilitas Bitcoin ke kisaran level terendah dalam sembilan bulan. Pada Selasa (26/5/2026) pukul 14.25 waktu Indonesia, BTC masih berusaha bertahan di kisaran US$76.590 atau setara Rp1,36 miliar.

Di tengah pergerakan itu, arus perdagangan aset kripto paling berharga di dunia ini terlihat sepi. Menjauhnya aspek spekulatif dari pasar ikut membuat permintaan atas opsi perlindungan ikut berkurang.

Volatilitas Bitcoin turun ke level yang jarang terlihat

Tekanan tersebut tercermin dari parameter Bitcoin Volmex Implied Volatility Index yang turun ke level 36,11. Angka ini merupakan level terendah sejak September 2025 dan juga mendekati titik terendah yang terakhir kali terlihat sejak 2023.

Indeks Volmex menggambarkan volatilitas Bitcoin yang diperkirakan pasar untuk 30 hari ke depan. Perhitungan indeks ini diperoleh dari harga opsi kripto secara real-time, sehingga pergerakannya kerap menjadi acuan penting untuk membaca perubahan sentimen pelaku pasar.

Dengan posisi seperti itu, Bitcoin pada saat yang sama masih bergerak di zona sekitar US$77.000. Namun, aset kripto ini tampak kesulitan menembus kembali level US$80.000 yang menjadi salah satu batas psikologis dalam pergerakan terbarunya.

Situasi ini memperlihatkan bahwa pasar belum benar-benar kembali ke fase euforia. Meski ada upaya bertahan di area saat ini, pergerakan harga masih menunjukkan tekanan yang cukup kuat dan belum memberi sinyal momentum yang solid untuk menembus level yang lebih tinggi.

Jarak harga Bitcoin dari capaian tertingginya juga masih sangat lebar. Level saat ini jauh dari all time high terakhir BTC pada Oktober lalu, ketika harganya sempat mencatat lebih dari US$126.000.

Menjelang libur Idul Adha, kondisi pasar yang cenderung tenang justru beriringan dengan volatilitas yang melemah. Dalam konteks perdagangan kripto, penurunan volatilitas semacam ini biasanya menandakan berkurangnya dorongan transaksi yang agresif, sekaligus membuat pergerakan harga terlihat lebih datar dibandingkan periode yang penuh spekulasi.

Namun, data yang muncul justru menunjukkan Bitcoin belum mampu keluar dari tekanan tersebut. Bertahan di sekitar US$76.590 hingga US$77.000, aset ini masih membutuhkan dorongan yang lebih besar untuk kembali mendekati area US$80.000, apalagi untuk mengejar jarak yang masih sangat panjang menuju rekor sebelumnya.

Selain harga, pasar juga memperhatikan perubahan minat atas instrumen lindung nilai. Ketika spekulasi mereda dan perdagangan cenderung sepi, kebutuhan terhadap opsi perlindungan ikut turun. Kondisi itulah yang selaras dengan pelemahan pada indeks volatilitas yang kini berada di level rendah.

Dalam pantauan Bloomberg, kombinasi antara harga yang tertahan, perdagangan yang lebih lengang, dan volatilitas yang menurun menggambarkan pasar Bitcoin yang sedang bergerak hati-hati. Di satu sisi, harga masih bertahan di kisaran tinggi jika dibandingkan dengan beberapa periode sebelumnya. Namun di sisi lain, pasar belum menunjukkan tenaga baru untuk mendorong kenaikan yang lebih tegas.

Pergerakan tersebut menempatkan Bitcoin pada fase yang cukup kontras: tetap menjadi aset kripto paling berharga di dunia, tetapi saat ini lebih banyak diperdagangkan dengan ritme yang lebih tenang dan ruang spekulasi yang mengecil. Selama BTC belum mampu menembus US$80.000 secara meyakinkan, pasar tampaknya masih akan menilai aset ini sebagai instrumen yang bergerak hati-hati di tengah tekanan volatilitas yang rendah.

Dalam kondisi seperti ini, pasar cenderung bergerak dalam rentang yang sempit karena pelaku transaksi memilih menunggu arah yang lebih jelas. Selama harga belum keluar dari area konsolidasi saat ini, setiap kenaikan masih dibaca sebagai upaya bertahan, bukan tanda bahwa tren penguatan sudah kembali terbentuk dengan kuat.

Karena itu, perhatian pasar kini lebih banyak tertuju pada apakah Bitcoin mampu membangun momentum baru di atas level psikologis US$80.000. Jika hambatan itu belum terlewati, tekanan volatilitas yang rendah kemungkinan masih akan menjadi ciri utama pergerakan kripto dalam waktu dekat.