Internasional

Israel Diam-diam Memantau Pejabat AS, Intelijen Bongkar Dugaan Penyadapan

0
×

Israel Diam-diam Memantau Pejabat AS, Intelijen Bongkar Dugaan Penyadapan

Sebarkan artikel ini
Israel Diam-diam Pantau Para Pejabat AS, Intelijen Bongkar Dugaan Penyadapan Global 8 Juni 2026
Ilustrasi: Israel Diam-diam Pantau Para Pejabat AS, Intelijen Bongkar Dugaan Penyadapan

jurnalistik.co.id – Laporan intelijen Amerika Serikat mengungkap dugaan bahwa badan intelijen Israel tengah meningkatkan upaya penyadapan terhadap pejabat AS yang terlibat dalam perundingan damai dengan Iran. Temuan ini, menurut laporan, memicu kewaspadaan baru di Washington terkait ancaman kontraintelijen dari salah satu sekutu terdekatnya.

Upaya yang diduga dilakukan Israel juga disebut memunculkan kekhawatiran karena AS dan Israel selama ini diketahui saling melakukan aktivitas intelijen dan disebut telah lama memahami serta menoleransi praktik tersebut. Namun, sejumlah pejabat Amerika menilai langkah yang diincar Israel untuk memperoleh informasi mengenai posisi AS dalam pembicaraan dengan Iran dinilai sudah melewati batas.

Laporan intelijen AS yang dilaporkan New York Times pada Sabtu (6/6/2026) menyebut Israel diduga meningkatkan upaya untuk memantau komunikasi sejumlah pejabat senior Amerika. Di dalam daftar yang disebut, terdapat utusan utama Presiden Trump dalam negosiasi, Steve Witkoff, serta pejabat kebijakan tinggi Pentagon, Elbridge A Colby.

Selain kedua nama tersebut, laporan juga mengungkap adanya salah satu pejabat senior lainnya, Michael P. DiMino IV. Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa tingkat ancaman kontraintelijen yang ditimbulkan Israel terhadap AS meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dari level tinggi menjadi kritis.

Defense Intelligence Agency (DIA) bersama sejumlah badan intelijen militer disebut menyusun laporan yang menguraikan dugaan berbagai upaya Israel untuk memata-matai personel militer dan pejabat pemerintah Amerika. Uraian tersebut menjadi dasar penilaian bahwa risiko kontraintelijen dari Israel terhadap AS mengalami eskalasi.

Kerja sama militer AS-Israel yang sangat dekat

Temuan ini muncul ketika hubungan militer AS dan Israel berada pada titik kerja sama yang sangat dekat. Kedua negara disebut tengah bekerja sama menghadapi Iran, dengan pejabat militer Israel dan Amerika bekerja berdampingan di Komando Pusat AS.

Dalam konteks itu, disebut pula bahwa militer AS berbagi sejumlah besar informasi taktis dan operasional dengan Israel. Meski demikian, sejumlah pejabat senior Amerika menilai Israel diduga berupaya mendapatkan gambaran mengenai strategi Presiden Trump serta perubahan sikap Washington dalam pembicaraan damai dengan Iran.

Menurut penilaian pejabat tersebut, situasi ini berpotensi mempersulit upaya mempererat perencanaan militer antara Komando Pusat AS dan Israel. Tantangan tersebut dinilai terutama jika Pentagon memutuskan untuk membatasi informasi yang dibagikan kepada pejabat Israel.

Perbedaan arah kebijakan AS dan Israel terkait Iran

Dalam laporan, disebutkan bahwa Presiden Donald Trump mendorong kesepakatan damai dengan Iran. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut ingin terus melemahkan kemampuan Iran.

Klaim dugaan perbedaan tujuan ini juga dikaitkan dengan ketegangan yang meningkat di antara keduanya. Dalam teks yang dipaparkan, disebut bahwa Israel mengguncang pemerintahan teokratis negara tersebut serta menyerang kelompok sekutunya, Hizbullah, di Lebanon.

Penjelasan lain yang dimuat dalam laporan menyebut bahwa pada awal perang Iran, AS dan Israel dikatakan memiliki tujuan yang relatif sejalan. Namun, seiring waktu, tujuan tersebut disebut mulai berbeda.

Amerika Serikat disebut lebih fokus menggunakan tekanan militer untuk melemahkan kemampuan Iran dan mendorong konsesi di meja perundingan. Di sisi lain, Israel digambarkan berharap pemerintahan garis keras Iran kehilangan kendali atas negara tersebut.

Dengan demikian, dugaan peningkatan upaya penyadapan yang disampaikan laporan intelijen AS beririsan dengan dinamika kebijakan yang berbeda antara Washington dan Yerusalem. Di tengah kerja sama militer yang rapat, penilaian risiko kontraintelijen yang meningkat menjadi perhatian utama bagi pejabat Amerika.

Melalui laporan yang dirujuk New York Times, rangkaian dugaan ini menempatkan Israel—disebut sebagai badan intelijen Israel yang dikenal lewat Mossad—sebagai pihak yang diduga memperluas upaya pemantauan komunikasi pejabat senior AS. Peningkatan itu, menurut laporan, terjadi ketika hubungan kedua negara dalam ranah pertahanan berada pada kondisi yang sangat intens, terutama dalam upaya menghadapi Iran.

Seluruh uraian tersebut juga menegaskan bahwa fokus perhatian Washington bukan hanya pada keberadaan aktivitas intelijen, melainkan pada penilaian bahwa upaya Israel kini terkait informasi strategis dan perubahan sikap AS dalam pembicaraan damai. Dalam kerangka itulah, pejabat senior Amerika menilai potensi pembatasan informasi di antara kedua pihak dapat memengaruhi perencanaan militer di masa mendatang.