jurnalistik.co.id – JAKARTA — Lagu viral “Mas Bahlil Ganteng” atau “My Little Bolu Ketan” disebut bukan sekadar hiburan yang lewat begitu saja di media sosial. Di balik popularitasnya, lagu yang awalnya diduga bernuansa satire itu justru perlahan ikut membentuk sentimen publik terhadap Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar.
Psikiater RS Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ, menilai fenomena lagu viral yang terus terngiang di kepala merupakan hal yang normal secara psikologis. Dalam psikologi, kondisi seperti ini dikenal dengan istilah earworm atau Involuntary Musical Imagery (IMI), yaitu saat potongan lagu atau lirik muncul berulang tanpa disengaja di benak seseorang.
“Fenomena lagu viral yang terus terngiang dan berulang di kepala sebenarnya bukan hal baru dalam psikologi. Potongan lagu atau lirik bisa muncul terus tanpa disengaja,” kata Lahargo dalam keterangannya, dikutip Jumat (29/5).
Menurut Lahargo, otak manusia memang dirancang untuk mengenali pola yang sederhana, repetitif, dan emosional. Karena itu, lagu-lagu viral dengan melodi yang mudah ditebak, lirik singkat, serta ritme sederhana cenderung lebih mudah menempel di memori jangka pendek. Saat sebuah lagu punya ciri seperti itu, otak lebih cepat menyimpannya dan lebih gampang memunculkannya kembali.
Ia menjelaskan, paparan berulang melalui media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, hingga platform digital lain turut memperkuat efek tersebut. Ketika seseorang melihat dan mendengar potongan lagu yang sama berulang kali, otak dapat menganggapnya sebagai informasi penting. Dari situ, lagu itu seperti terus diputar ulang di kepala meski musiknya sudah berhenti dimainkan.
Di titik inilah lagu viral tidak lagi hanya dipahami sebagai konten hiburan. Ia bisa menjadi bagian dari cara publik menerima, mengingat, dan bahkan merespons suatu tokoh atau isu. Dalam kasus “Mas Bahlil Ganteng” atau “My Little Bolu Ketan”, popularitas lagu tersebut disebut ikut bergerak seiring dengan persepsi publik terhadap sosok Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar.
Lahargo memandang, gejala seperti ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh pola musik sederhana ketika dipadukan dengan distribusi masif di media sosial. Lagu yang singkat dan mudah diingat punya peluang besar untuk berulang di kepala banyak orang, terlebih jika terus muncul di linimasa dan dibagikan berulang oleh pengguna lain.
Karena itulah, sebuah lagu viral bisa bekerja lebih jauh daripada sekadar memancing hiburan sesaat. Ia dapat membentuk pengalaman mendengar yang menempel, mengulang, dan meninggalkan jejak psikologis tertentu. Dalam konteks ini, fenomena earworm menjadi salah satu alasan mengapa potongan lagu yang ramai di media sosial kerap sulit dilepaskan dari ingatan publik.
Meski begitu, Lahargo menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan sesuatu yang asing dalam psikologi. Justru, fenomena itu memperlihatkan bagaimana otak merespons pola yang berulang, terutama ketika pola itu dikemas dalam format yang sangat akrab di platform digital. Kombinasi antara melodi sederhana, lirik singkat, serta paparan berulang membuat lagu viral seperti “Mas Bahlil Ganteng” atau “My Little Bolu Ketan” mudah menempel di kepala dan terus hadir kembali tanpa diminta.
Dengan karakter seperti itu, wajar bila potongan lagu yang semula terdengar ringan kemudian berubah menjadi pengingat yang sulit diabaikan. Semakin sering sebuah cuplikan muncul, semakin besar pula kemungkinan publik mengaitkannya dengan figur yang disorot, meski awalnya hanya dimaksudkan sebagai hiburan. Pada tahap ini, daya tempel lagu bekerja bukan hanya pada telinga, tetapi juga pada cara orang memaknai sosok yang menjadi bahan pembicaraan.
Lahargo pada dasarnya ingin menegaskan bahwa viralitas lagu tidak berdiri sendiri. Ada pengaruh dari pola bunyi yang sederhana, pengulangan yang konsisten, dan ritme distribusi media sosial yang sangat cepat. Ketika ketiganya bertemu, sebuah lagu bisa menjadi fenomena psikologis yang bertahan lebih lama dari sekadar tren sesaat, sekaligus ikut membentuk ingatan kolektif publik terhadap isu atau tokoh yang sedang ramai dibicarakan.












